Untuk Sebuah Amanah Cinta, Asy-Syifa

Suatu sunnatullah hari demi hari pun berganti. Dihiasi bulir embun di ranting dan pucuk daun yang tak kunjung jemu mengawali pagi. Tak juga terselip resah dan iri karena sapaan sinar mentari membuatnya luruh ke bumi. Perlahan, semburat merah mulai menghiasi senja di ufuk barat. Suasana semakin temaram, saatnya kegelapan menyelubungi dunia.

Selalu…

Aku terpekur dalam cinta ketika menatap wajah mungilmu

Kuhamburkan pula butiran do’a, lalu sujud syukur terhatur kepadaNya

Duhai ananda…

Adakah dikau akan meneduhkan hati dengan akhlak mulia

Peredup letih penat dan penuntas segala resah

Walau mata masih mengatup erat, lengking tangisan telah merobek keheningan. Tubuhnya pun masih basah karena simbahan air ketuban dan percikan darah. Sebentar kemudian, rasa cemas diredam hangat pelukan. Lalu dengan lahap dihirupnya air susu beraroma surga. Jiwa dan raga yang letih seketika redup karena kehadirannya.

Suatu sunnatullah hari demi hari pun berganti. Dihiasi bulir embun di ranting dan pucuk daun yang tak kunjung jemu mengawali pagi. Tak juga terselip resah dan iri karena sapaan sinar mentari membuatnya luruh ke bumi. Perlahan, semburat merah mulai menghiasi senja di ufuk barat. Suasana semakin temaram, saatnya kegelapan menyelubungi dunia.

Selalu, perputaran bumi dengan setia menjambangi pagi dan kelamnya hari. Bergantian, mematuhi titah Illahi Rabbi. Seiring waktu, buah hati pun semakin tumbuh merekah dan berseri.

Penulis dan Kak Syifa Ketika Masih Berusia 3 Tahun
Penulis dan Kak Syifa Ketika Masih Berusia 3 Tahun

Ditapaknya bumi dengan sepasang kaki mungil yang masih goyah. Tertatih, namun mencoba berlari seraya tangannya lincah meraih. Matanya berbinar, bibir tersenyum dan tangan bertepuk-tepuk riang. Tak jarang terjatuh, menangis kencang karena kepala membentur lantai. Namun pelukan kasih sayang meredakan tangisan. Kembali ia belajar menapak, tak kenal kata menyerah. Tingkahnya menyemburatkan rasa bangga, meredupkan letih penat dan pelipur segala lara.

Setiap saat kutatap mata beningnya, ada jutaan gairah rasa ingin tahu semua. Lihatlah pula tingkah polahnya, tampak siluet lukisan diriku yang turut mewarnai sifatnya. Simak juga celoteh mulut mungilnya, banyak untaian kata yang berkisah.

Aaah…

Rasanya syukur yang pantas aku luahkan kepada-Nya, ananda berkembang dengan penuh cinta. Ia yang dahulu belum bisa berbuat apa-apa, kini perlahan mampu menjelmakan keinginannya. Terkadang rasa ingin tahunya membuat hati ini diliputi rasa bahagia, walau tak jarang pula menggelegakkan amarah. Kesal pun terlontar dalam ucapan lidah tak bertulang.

Namun…

Sesaat pula kutatap bulat bola matanya. Polos, karena ia memang belum mengerti apa-apa. Akal pikirannya belum mampu menilai perbuatan benar atau salah. Usianya yang masih batita, pasti lebih membutuhkan bahasa cinta. Tak hanya terurai dalam untaian kata, tapi juga sikap yang penuh perhatian dan kehangatan pelukan. Amarah yang bergejolak tanpa pengendalian hanya menjadikan layu bunga di hatinya.

Dan, bukankah seorang anak akan suka mengasihi kalaulah tumbuh dalam kasih sayang? Ia pun pasti senang mencintai jika dirinya tak henti-henti dilimpahi rasa cinta dan perhatian.

RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam bahkan pernah mengingatkan, sesungguhnya pada setiap pohon terdapat buah, dan buahnya hati adalah anak. Sesungguhnya pula Allah Subhanahu wa Ta’ala tak akan mengasihi mereka yang tidak mengasihi anaknya. Demi nyawaku yang berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang memiliki sifat kasih sayang.

Aku terpekur, seraya menatap dirinya yang kini terlelap. Larut merenungi wajahnya yang tersenyum tanpa dosa. Wajah yang memancarkan rasa damai, membuat bahagia begitu berlimpah ruah. Kemudian kubelai rambutnya yang bergelombang, dan kukecup pula lembut keningnya. Rasa haru perlahan meluruhkan jiwa. Tak lupa kubisikkan do’a agar ia selalu indah, meluahkan cinta kepada seluruh ciptaan-Nya.

Tidurlah Nak…

Bermimpilah menjadi seorang putri raja. Jangan hiraukan segalanya, karena ayah dan bunda akan menjadi hulubalang istana yang selalu setia menjaga. Kalau esok pagi engkau bangun, jangan ragu untuk lincah menari dan merdu bernyanyi. Tumbuh dan mekarlah, bagai kuntum bunga yang setia merebakkan bau harum mewangi, mengalirkan kasih putih.

Semoga…

You might also like More from author

Comments

Proses...