Surat Kedua untuk Gubernur Jambi Zumi Zola Kembali Beredar

Setelah sebelumnya sebuah surat terbuka dikirimkan oleh salah seorang dokter, kali ini muncul lagi tulisan serupa lain berjudul Cerpen untuk Sang Gubernur.

Cerpen untuk Sang Gubernur

Genap dua puluh tahun sudah, aku menjalani profesi mulia ini. Profesi Perawat. Meski awalnya bukanlah pilihanku, tetapi pilihan Almarhumah Ibuku.

Masih kuingat ekspresi bangga dan bahagianya beliau, saat aku lulus di sebuah sekolah perawat di Makassar, tahun 1994.

Aku menjalani dengan separuh hati namun tetap bersungguh-sungguh hingga selesai pendidikan.

Perawat *

Aku tercatat sebagai seorang Perawat di tahun 1997.

Tanyakanlah kepada anak-anakmu, apakah ada yang ingin menjadi seorang perawat?

Mungkin hanya satu atau dua orang saja yang akan memilih menjadi seorang perawat. Bahkan anak dari seorang perawat pun, mungkin tak akan memilih profesi orang tuanya.

Apa sebabnya?

Apa karena gajinya sedikit?,

Apa karena tidak bisa tidur pulas saat jaga malam?,

Apa karena tak bisa leluasa ijin tidak masuk, saat ada acara keluarga?, atau

Apa karena kerjaanya melayani dan merawat, memandikan, dan lainnya?

Saat pendidikan, aku sudah terbiasa tidak tidur saat jaga malam. Entah karena sebuah tugas, entah karena takut dimarahi senior.

Dan saat bekerja di sebuah rumah sakit, kebiasaan itupun semakin lekat. Jangankan harus menggedor pintu, langkah kaki menuju ruang perawat pun akan membuatku spontan terjaga. Bahkan suara kaki kecoak pun, sudah cukup untuk membuatku terjaga.

Saat sedang bertugas jaga malam, aku tetap butuh waktu sejenak untuk meluruskan badan dan memejamkan mata beberapa saat. Karena tubuhku juga butuh istirahat sejenak. Tubuhku sama dengan tubuh-tubuh yang sedang kurawat, juga tubuh orang-orang yang mencaci dan merendahkanku dengan memandangku seperti seorang pembantu dan pelayan.

Tidak menyombongkan diri, tapi aku memiliki keahlian dalam profesiku, dan juga berpendidikan sarjana yang mungkin sama bahkan jauh lebih tinggi dari yang sedang kurawat atau yang selalu memakiku.

BACA JUGA: SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR ZUMI ZULA

Apa anda bisa membedakan Sleeping dengan Napping, Bapak Gubernur?

Sleeping adalah tidur berjam-jam. Pulas. Tendangan Anda pada tempat sampah pun tak akan mampu membangunkannya.

Napping adalah tidur-tidur ayam. Gampang bangun. Suara cikcak pun cukup membuat terjaga.

Tubuhku seperti tubuhmu. Sel tubuhmu dan sel tubuhku sama-sama membutuhkan istirahat. Aku butuh memejamkan mata sejenak, meluruskan tubuhku agar aku tetap bisa terjaga dan waspada, juga konsentrasi dalam mengambil tindakan di setiap perubahan kondisi pasen-pasenku, meski sedang dalam deraan lelah dan ngantuk, bahkan tak jarang tetap bertugas dalam kondisi sakit.

Cerpen untuk Gubernur Zumi Zola dari Mayla Parinrigi
Mayla Parinrigi

Tahukah Anda Bapak Gubernur, Apa yang kami makan saat jaga malam?

Bukan makanan mahal, juga bukan makanan bernutrisi tinggi, untuk menjaga tubuh kami tetap bisa aktif hingga pagi. Apalagi menjaga tubuh kami dari ancaman kanker.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa tetap aktif dimalam hari tanpa istirahat, rentan menderita kanker.

Astagfirullah… Begitu berat tanggung jawab yang kami harus emban dua malam dalam seminggu. Kami bertahan dengan sebungkus mie instan dan sebutir telor, juga sebungkus kopi.

Adilkah jika hanya memejamkan mata sejenak karena lelah dan ngantuk, kami dipermalukan dan direndahkan?

Tahukah engkau Bapak Gubernur ?

Aktingmu di pagi buta, melukai dan menyakiti profesiku. Melukai semua perawat yang ada di sluruh belahan dunia.

Semoga Anda tidak pernah membutuhkan sentuhan tangan perawat.

Saat ngantuk dan lelah mendera, kami mencari dan melakukan berbagai cara agar tidak tertidur, sebelum kami memastikan kondisi pasen-pasen kami terlebih dahulu.

Kami terikat sumpah, dan itulah yang menguatkan kami dan menjadi daya tahan tubuh kami dari rentannya kami tertular penyakit, apalagi saat jaga malam.

Sumpah kami yang membuat kami kuat dan tega meninggalkan anak kami yang lagi sakit di rumah, atau keluarga kami yang sedang butuh perawatan di rumah, demi untuk bisa merawat keluarga orang lain, yang justru tidak berhenti selalu mencaci bahkan membentak kami seperti seorang pembantu.

Tahukah Anda Bapak Gubernur?

Betapa beratnya hati kami meninggalkan anak kami yang sedang demam di rumah, demi tugas merawat anak orang lain yang kami rawat di rumah sakit?

Betapa kedua mata kami berat dan berkaca-kaca harus meninggalkan orang tua kami yang sedang terbaring lemah tanpa daya, demi untuk bisa merawat orang tua orang lain.

Dua puluh tahun sudah. Lebih dari separuh usiaku, kuhabiskan di balik koridor rumah sakit. Terkadang mengabaikan luka di tubuh, bahkan deraan penyakit, demi sebuah tugas dan pengabdian, meski yang kudapatkan terkadang sebuah bentakan dan sikap merendahkan.

Dua puluh tahun, aku menghabiskan waktuku di rumah sakit, bahkan seluruh nafasku bercampur dengan nafas yang berisi kuman TBC paru dan penyakit lainnya yang ditularkan lewat udara.

Dua puluh tahun dicaci dan dibentak, meski tak sedikit aku juga mendapatkan penghargaan dan ucapan terimakasih dari mereka yang bisa pulang dengan senyum dan kesembuhan.

Resiko pekerjaan. Aku lelah mendengarnya.

Yah… Itulah dalih mulut-mulut tak berhati yang menghardik saat tubuh kami mengeluh atau melakukan kesalahan karena lelah dan ngantuk.

Entah berapa ribu tubuh-tubuh tak berdaya yang pernah kusentuh lewat tangan kecilku sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam sebuah pengabdian. Pengabdian untuk berbagi.

Hai Bapak Gubernur …

Apakah saat teman sejawat kami sedang memejamkan mata di ruang perawat, ada pasen yang sedang mengeluh tapi tak ada perawat di stasiun perawat?

Apakah ada pasen yang cairannya habis, atau mengeluh kesakitan atau bahkan dalam kondisi gawat, tapi kami sedang pulas?

Ini bukan bagian dari syooting sebuah film di rumah sakit kan?

Jika ingin mengetahui apa yang kami kerjakan selama 24 jam di rumah sakit, apakah Anda berkenan tinggal di rumah sakit selama 24 jam untuk melihat kesibukan kami?

Semoga Allah berkenan memberiku waktu yag lebih lama lagi untuk terus bisa menjadi seorang Perawat.

Merawat adalah hidupku. Berbagi adalah kehidupanku.

Jangan pernah meremehkan profesi Perawat. Karena perawat adalah profesi terbesar dalam sebuah rumah sakit.

Tanpa perawat, sebuah Rumah Sakit tak akan bisa disebut Rumah Sakit.

#BungkamMulutmu

Ditulis oleh Mayla Parinringi

You might also like More from author

Comments

Proses...