Subsidi adalah Beban, Kenaikan adalah Pilihan

Baru-baru ini kita diributkan dengan persoalan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sedianya akan diterapkan mulai per tanggal 1 April 2012. Berbagai macam pro kontra timbul dari berbagai unsur lapisan masyarakat, disatu pihak ada yang mendukung jika harga BBM dengan terpaksa harus dinaikkan sedangkan dipihak lain ada yang benar-benar menolak kebijakan ini untuk diterapkan dengan alasan akan semakin menambah beban hidup masyarakat menengah kebawah nantinya. Dipungkiri atau tidak, NAIKNYA HARGA MINYAK DUNIA menjadi satu-satunya alasan utama kenapa pemerintah pada akhirnya harus mengurangi subsidi BBM yang selama ini diberikan. Dan saya kira, imbas dari kenaikan harga minyak dunia ini juga akan turut mempengaruhi negara-negara lainnya.

Jika kita lihat tulisan dari Republika.Co.Id mengenai perbandingan harga BBM di beberapa negara kawasan Asia, dapat dilihat bahwa ternyata harga BBM di Indonesia termasuk paling murah yaitu Rp. 4.500,- per liter. Angka ini hanya terpaut tipis dibawah harga BBM Malaysia yang berkisar di harga Rp. 4.784,- per liter. Dari sini sebenarnya kita sudah dapat mengambil sebuah keputusan bahwa negara ini sudah cukup merasa terbebani dengan jumlah subsidi yang diberikan. Dan beban ini tentunya akan semakin bertambah jika pemerintah tetap bertahan dengan kebijakan subsidi BBM sebelumnya. Mau tidak mau, kenaikan harga BBM harus dilakukan.

Mungkin diantara pembaca akan langsung menganggap bahwa tulisan saya ini sangat bertentangan dengan aspirasi sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak menginginkan kenaikan harga BBM ini terjadi. Namun, ada beberapa pertimbangan dari sudut pandang pribadi sehingga saya mendukung kebijakan kenaikan harga BBM di Indonesia. Dan melalui tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk dapat membuka pemahaman lebih luas mengenai kondisi yang sedang terjadi di negeri ini. Bagi saya, masalah sebenarnya bukan terletak pada isu kenaikan harga BBM melainkan karena sudah semakin kompleksnya masalah yang mendera ibu pertiwi. Mulai dari isu melambungnya harga minyak dunia, isu kasus korupsi yang terus bermunculan, hingga politisasi demokrasi Indonesia.

Pemberlakuan konsep subsidi BBM yang tidak merata membuat saya pernah membayangkan bagaimana seandainya di SPBU menerapkan sistem pengelompokan kendaraan berdasarkan besarnya kapasitas silinder, merek, serta tahun pembuatan. Tentunya sistem ini diprioritaskan bagi para pengendara kendaraan roda empat yang sekali mengisi BBM bisa mencapai puluhan bahkan ratusan lite. Kalau bisa untuk merek-merek tertentu tidak diperkenankan mengisi BBM selain PERTAMAX karena sesuai tujuan, subsidi hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah kebawah. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah rakyat kecil pada punya MOBIL semua, tentu tidak kan?. Fakta inilah yang menjadi dasar pemikiran saya bahwa sebenarnya subsidi untuk BBM itu kurang tepat sasarannya. Alangkah lebih bijaksananya jika kelebihan dana subsidi tersebut bisa dialihkan ke bidang lain yang dapat menyentuh langsung hajat hidup rakyat kecil.

Hanya saja, pemikiran diatas tidaklah semudah membalikkan tangan dalam penerapannya. Oknum-oknum koruptor yang masih bebas berkeliaran diatas sana sebagai dampak dari lemahnya penegakan hukum di Indonesia pastinya telah siap “mengintai” mata-mata anggaran pengganti subsidi tersebut. Jika sebenarnya jatah yang harus diberikan ke rakyat kecil adalah 100 persen, mungkin oleh mereka dana tersebut akan disunat sehingga yang tersisa tidaklah seberapa. Jadi sangat jelas terlihat disini bahwa masalah sebenarnya bukan semata-mata terletak pada isu kenaikan BBM bukan?. Dan dari info terbaru pemberitaan media televisi, pemerintah masih diberikan opsi tidak menaikkan harga BBM dengan konsekuensi akan ada penambahan anggaran subsidi sebesar Rp. 178.000.000.000.000,-. Logikanya, dengan penjelasan saya diatas sepertinya dana sebesar itu akan terasa sia-sia dianggarkan. Sekarang jika kita hitung secara umum, dari anggaran tambahan diatas siapa yang akan menikmatinya paling besar. PARA PENGENDARA RODA EMPAT ATAUPUN PARA PENGENDARA RODA DUA???. Dan bagi masyarakat kecil yang tidak memiliki kendaraan, apakah mereka ikut merasakan dana subsidinya???. Silahkan dijawab sendiri ya… :-) (DW)

Sumber Gambar:

  • http://politik.kompasiana.com/2012/03/14/subsidi-bbm-mampukah-kita-melepasnya/
Bagikan Ini Share on Facebook6Share on Google+0Share on LinkedIn2Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter2
author

Author: 

Blog yang berisi info mengenai Pontianak, perjalanan Blogger Borneo, liputan kegiatan, dan review produk jasa terbaru. Jika ada yang berminat produknya direview langsung aja menghubungi 08565030366. Thanks...

4 Responses

  1. author

    septianw3 years ago

    mungkin komentar saya gak berkaitan sama sekali sama postingannya. pom bensin di tempat saya kok ada tulisan dilarang memotret ya? bukannya memang dilarang memotret di pom bensin? kok ada foto itu?

    Reply
  2. author

    Tina Latief3 years ago

    saya tidak keberatan dengan kenaikan itu, hanya saja saya tidak setuju dengan cara demo yang anarkis seperti kemarin. Mengingat Indonesia masih belum bisa mengolah bahan bakar sendiri, mau tak mau negara harus membeli dari luar negeri dengan harga dunia. Sedangkan harus dijual dengan harga regional. Tentu saja untuk mengurangi devisit harus dinaikkan dengan cara seperti itu…

    Reply
  3. author

    Tina Latief3 years ago

    saya tidak keberatan dengan kenaikan itu. Pasalnya indonesia memang belum bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar sendiri. Mau tak mau harus impor dengan harga dunia lalu menjualnya dengan harga wilayah. Pilihannya, pilih dinaikkan segitu atau membayar dengan harga dunia. Kalau tidak dinaikkan dengan cara seperti itu mau menutup devisit dari mana?

    Reply
  4. author

    Ilo3 years ago

    Baca dulu ini Bro, apakah anda masih sepakat dengan kenaikan BBM http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/

    Reply

Leave a Reply