Sonya Depari, Salah Satu Contoh Kejamnya Viral Media Sosial

Kurang lebih empat hari berlalu, sepertinya gaung dari pemberitaan mengenai Sonya Depari berangsur-angsur sudah mulai menghilang. Jika Blogger Borneo perhatikan, situasi yang menimpa Sonya Depari sebenarnya juga sudah sering dialami oleh para “Sonya-Sonya” yang lain. Ketika yang bersangkutan “tertangkap basah” sedang membentak seorang polwan sekaligus mengaku-ngaku sebagai anak seorang perwira polisi ketika diri dan kawan-kawannya dirazia, dalam waktu singkat rekaman videonya langsung menyebar dan menjadi sebuah berita viral di media sosial.

Hujatan, cacian, dan makian pun mengalir ke sosok wanita yang baru saja selesai melaksanakan Ujian Nasional SMU 2016 ini. Berbagai portal-portal berita online pun langsung menjadikan pemberitaan mengenai Sonya Depari sebagai salah satu hot news pada saat itu. Dan siapa yang bakal mengira, efek viral dari munculnya pemberitaan ini baik itu di portal-portal berita maupun media sosial menyebabkan Bapak kandung dari Sonya Depari meninggal dunia keesokan harinya dikarenakan terkena serangan stroke mendadak.

Terlepas dari terkait atau tidaknya kisah meninggalnya Bapak Sonya Depari dengan situasi yang menimpanya sehari sebelumnya, disini Blogger Borneo ingin memberikan pendapat bahwa seharusnya sebagai seorang netizen cerdas kita harus bisa mengomentari atau merespon sebuah peristiwa dengan lebih bijaksana. Mencoba untuk bisa melihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda, Blogger Borneo kira hal ini harus diperhatikan sebelum melakukan justifikasi terhadap seseorang melalui media sosial.

Karangan Bunga dan Ucapan Duka Cita atas Meninggalnya Bapak dari Sonya Depari
Karangan Bunga dan Ucapan Duka Cita atas Meninggalnya Bapak dari Sonya Depari (Sumber: OkeZone.Com)

Waktu awal mula pemberitaan mengenai Sonya Depari muncul dan beredar di media sosial, Blogger Borneo langsung mencoba untuk mencari informasi mengenai rekaman video dari beberapa sumber berita yang ada. Ya memang setelah ditonton dan diperhatikan, apa yang dilakukan oleh Sonya Depari memang bisa dianggap sebagai sebuah pelanggaran yaitu melawan petugas ketika sedang dirazia. Akan tetapi, apakah kita sadar sebenarnya yang dilakukan oleh Sonya Depari tersebut juga terkadang dilakukan oleh beberapa pengendara lain ketika dirazia. Lagipula, jika dilihat dari gaya bicara dan bahasa tubuh Sang Polwan yang dibentak oleh Sonya Depari, sepertinya Beliau sudah biasa menghadapi situasi-situasi seperti ini ketika sedang menjalankan tugas.

Disini Blogger Borneo menilai apa yang telah dilakukan para petugas yang pada saat itu sedang merazia justru lebih sopan dan beretika ketimbang para oknum netizen yang dengan tingkah polah angkuh dan sombongnya langsung melakukan justifikasi sambil terus melakukan serangan bullying dalam bentuk hujatan, cacian, dan makian. Padahal jika diperhatikan, pada akhirnya para polisi termasuk Sang Polwan tersebut langsung melepaskan Sonya Depari dan kawan-kawan setelah mereka memberikan nasehat. Namun sayang, ternyata hasil rekaman video yang menangkap basah Sonya Depari sudah keburu di-publish di media sosial. Dalam waktu singkat, rekaman video ini pun langsung menjadi hot news dan menyebar secara viral kemana-mana.

Blogger Borneo yakin, jika dalam kasus ini tidak ada kisah Bapak Sonya Depari meninggal dunia. Mungkin efek viral beritanya masih akan tetap terus bertahan sampai hari ini. Sebenarnya dari kisah inilah kita masih banyak harus belajar bagaimana cara menggunakan media sosial sebagai sebuah “alat komunikasi” yang bermanfaat, bukan malah menjadikannya sebagai alat untuk “membunuh” melalui serangan-serangan bullying yang dilakukan. Padahal mungkin maksud dan tujuan awalnya hanya ingin memberikan “hukuman” kepada Sonya Depari karena dianggap telah melakukan kesalahan melawan petugas, namun ternyata yang menjadi “korban” adalah Bapak kandungnya sendiri.

Sebelum menutup tulisan ini, Blogger Borneo hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada satu manusiapun di muka bumi ini yang tidak memiliki aib atau keburukan, oleh karena itu sudah seharusnya dalam berkomunikasi dan bersilaturahim kita harus saling menjaga dengan sesama. Semoga tulisan ini dapat menjadi pemahaman bagi siapa saja yang membacanya bahwa sebenarnya “belum tentu yang menghujat itu lebih baik dari yang dihujat“. (DW)

You might also like More from author

Comments

Proses...