Saya Indonesia, Saya Pancasila, Setelah 72 Tahun Merdeka Kemana Saja?

Saya Indonesia, Saya Pancasila. Belakangan kalimat ini menjadi viral di media sosial. Entah kenapa ketika melihat fenomena ini, dua pertanyaan langsung terlintas di dalam hati. Pertanyaan pertama, apakah kita sudah paham dengan makna Pancasila? Kedua, apakah kita masih ingat dengan 36 butir pengamalan Pancasila?

Hari Lahir Pancasila
Image: OkeZone.Com

Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila atau lebih dikenal dengan istilah P4, Blogger Borneo masih sempat mengikuti penataran ini ketika baru masuk ke tingkat pertama di salah satu SMU yang ada di kota Pontianak. Mungkin bagi generasi kelahiran 1982 dan sebelumnya, masih sempat merasakan bagaimana selama kurang lebih 3 hari mendapat “pelajaran” khusus mengenai Pancasila beserta butir-butir pengalaman di dalamnya. Sedangkan di tahun penerimaan berikutnya, kegiatan penataran ini lalu dihapuskan dan tidak pernah dilaksanakan lagi sampai sekarang.

Dalam 2 hari belakangan ini, media sosial diramaikan dengan munculnya hashtag #SayaPancasila dan kalimat-kalimat “Saya Indonesia, Saya Pancasila” tampak begitu seragam menghiasi dinding-dinding status para netizen sehingga dalam waktu singkat hal ini langsung menjadi viral. Ya mungkin dikarenakan pada hari ini, setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Pancasila, maka beberapa sebelumnya hashtag dan kalimat tersebut mulai diramaikan.

Sejarah Hari Lahir Pancasila

Sebenarnya sebelum kita bicara lebih jauh mengenai kalimat Saya Indonesia, Saya Pancasila, pertanyaan mendasar yang mungkin tepat untuk dilontarkan saat ini adalah sejauh mana kita mengenal Pancasila setelah hampir 72 tahun merdeka? Dalam artian ketika periode pemerintahan mulai berpindah dari orde lama ke orde baru dan reformasi, sepertinya pemahaman makna akan keberadaan Pancasila sudah tidak lagi menjadi prioritas. Salah satu contoh nyatanya adalah ketika Penataran P4 mulai dihapuskan dan tidak diberikan lagi kepada generasi-generasi muda Indonesia.

Kutipan Sejarah 5 Sila dalam Pancasila
Kutipan Sejarah 5 Sila dalam Pancasila

Sedikit ingin bercerita mengenai kisah penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dikarenakan pada tanggal tersebut Soekarno memberikan pidato didepan Badan Penyelidik dan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah badan yang dibentuk pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang untuk membantu proses kemerdekaan Indonesia saat itu. Pidato ini disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945.

Meskipun isi Pancasila yang disampaikan Soekarno pada saat itu sangat berbeda dengan isi Pancasila sekarang, namun setidaknya Pancasila sudah menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini. Sedangkan menurut pakar hukum tata negara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, hari lahir Pancasila adalah pada tanggal 18 Agustus 1945.

36 Butir Pengamalan Pancasila

Merasa sangat beruntunglah bagi siswa-siswi sekolah setingkat SMU sederajat yang masih sempat merasakan bagaimana ditatar khusus mengenai P4. Memang jika diperhatikan ada sedikit perbedaan antara generasi tempo doeloe dengan generasi masa kini dimana mereka tidak mengenal dan memahami Pancasila secara mendasar. Pemikiran sederhananya adalah ketika mereka bicara mengenai Pancasila dalam makna khusus, sedangkan mereka sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya Penataran P4, terus apa yang mereka pahami sebenarnya?

Secara umum, Pancasila terdiri atas 5 sila, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Nah, secara khusus ke-5 sila dalam Pancasila dijabarkan menjadi 36 butir pengamalan, sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Butir-butir Pancasila ini sudah ditetapkan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa. Berikut butir-butir pengamalan Pancasila tersebut:

SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA

  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling hormat-menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

SILA KEDUA: KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

  1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

SILA KETIGA: PERSATUAN INDONESIA

  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan bertanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

SILA KEEMPAT: KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN

  1. Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

SILA KELIMA: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

  1. Mengembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Secara detail dalam butir-butir pengamalan Pancasila diatas sebenarnya sudah dijelaskan secara cukup jelas mengenai perilaku-perilaku yang sesuai untuk diterapkan. Jangan hanya sifatnya latah dan lantas ikut-ikutan teriak kesana kemari ga jelas di media sosial hanya karena ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Pancasilais. Sungguh miris melihatnya, ketika Indonesia sudah hampir 72 tahun merdeka mereka baru sadar bahwa mereka punya Pancasila. Selamat Hari Pancasila… (DW)

Referensi:

  • http://www.swamedium.com/2017/06/01/saya-pancasila-apa-saja-36-butir-pengamalan-pancasila/

You might also like More from author

Comments

Proses...