Pesona Kulminasi Matahari Kalimantan Barat 2010

Tanggal 23 Maret 2010 merupakan momen yang paling dinanti-nanti oleh warga masyarakat kota Pontianak dan sekitarnya karena pada tanggal tersebut, terjadi sebuah fenomena alam yang hanya dapat dilihat dibeberapa negara seperti Gabon, Zaire, Uganda, Kenya, Somalia, Ekuador, Peru, Columbia dan Brazil. Kota Pontianak sendiri menjadi satu-satunya kota yang persis dilintasi oleh garis equator dimana lokasi titik nol derajatnya ditandai dengan berdiri tegaknya sebuah tugu yang diberi nama Tugu Khatulistiwa. Itulah kenapa kota pontianak lebih dikenal dengan istilah Kota Khatulistiwa.

Kota Pontianak saat ini berada pada posisi 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur. Peristiwa kulminasi itu sendiri selalu terjadi setahun dua kali yaitu pada tanggal 21 – 23 Maret dengan titik kulminasi tepat pukul 11.51 WIB dan pada tanggal 21 – 23 September dengan titik kulminasi tepat pada pukul 11.38 WIB.

Sebagai seorang blogger borneo yang memiliki insting untuk selalu menulis, momen seperti ini tidak akan saya lepaskan. Meskipun saya lahir dan besar di kota khatulistiwa, namun jujur saya belum pernah sama sekali hadir dalam event perayaan kulminasi tersebut (kalau hanya sekedar lewat sih sering, hehehe…). Sempat menghubungi rekan-rekan yang lain yaitu Muhammad Irhamna dan Alex L. Setiawan untuk mengajak serta dan Alhamdulillah mereka juga bersedia untuk ikut. “Lumayan bisa buat menambah tulisan di blog” demikian komentar Mas Alex.

Sekitar jam 11.58 WIB kami tiba di lokasi Komplek Tugu Khatulistiwa. Suasana ramai terlihat begitu kami memarkirkan motor di halaman komplek tersebut. Tampak juga beberapa mobil berplat merah ikut hadir dalam perayaan event yang telah menjadi agenda kegiatan rutin pemerintah daerah setiap tahunnya sekaligus dalam rangka mendukung wacana Visit Kalbar 2010.

Ternyata kedatangan kami kesana terlambat beberapa menit karena peristiwa kulminasi matahari sendiri telah terjadi pada jam 11.51 WIB. Kami bertiga sempat merasa kecewa karena sebenarnya momen kulminasi matahari itulah yang ditunggu-tunggu. Tapi sudahlah, daripada terus bersedih lebih baik sekarang kami berbaur dengan para pengunjung yang lain. Ruangan yang posisinya ada dibawah Tugu Khatulistiwa menjadi tujuan pertama kami.

Di ruangan ini tugu khatulistiwa yang asli tampak berdiri tegak. Empat buah tonggak belian, masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter menjadi material penyusun terbentuknya tugu ini. Diatasnya terdapat diameter lingkaran yang bertulisan EVENAAR 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20′ OLvGr menunjukkan letak berdirinya Tugu Khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Jika dilihat dari sejarahnya pertama kali, konstruksi awal Tugu Khatulistiwa yang pertama dibangun tahun 1928 hanya berbentuk tonggak dengan tanda panah. Tahun 1930 disempurnakan menjadi berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli. Tugu ini diresmikan pada tanggal 21 September 1991. Nah, bentuk yang terakhir inilah yang terus dapat kita lihat sampai saat ini.

Perkembangan terbaru yang diperoleh menyatakan bahwa titik nol derajat yang pada mulanya tepat berada di posisi tugu berdiri, sekarang sudah bergeser sejauh 117 meter dari titik semula. Jika ditarik garis equator secara lurus maka lokasi baru titik khatulistiwa berada tepat dipinggiran sungai kapuas. Hhhmmm… Memang sebuah keagungan Allah SWT karena fenomena alam yang sering terjadi seperti gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain dapat menggeser posisi bumi di alam semesta ini. Jangankan titik equator, wong koordinat kiblat saja bergeser. Bener ngga?

Tujuan kami berikutnya adalah ke lokasi titik equator baru. Tidak ada pemandangan yang spesial di lokasi tersebut. Hanya terlihat sebuah tiang besi berselongsong (kosong didalamnya) yang ditopang oleh 4 buah kaki besi dan didasarnya terdapat serpihan-serpihan kertas petasan yang telah meledak. Rupanya salah satu cara untuk mengetahui terjadinya kulminasi adalah seperti itu. Di antara bagian bawah pipa besi dengan lantai diselipkan sebuah kaca pembesar (suryakanta). Posisi matahari yang terus bergerak menuju titik nol derajat dapat dilihat dari bayangan yang timbul dari pipa besi berselongsong tersebut. Nah, begitu posisi matahari tepat berada diatas pipa tersebut, tidak akan ada bayangan. Seolah-olah sinar matahari menembus rongga kosong ditengah-tengah pipa besi, mengarah langsung ke permukaan suryakanta, hingga menimbulkan satu titik api yang akan menyulut sumbu petasan yang telah diletakkan dibawahnya. Dan tak lama kemudian, tarr..tarr..tarr..tarr..tarr..tarr.. suara ledakan petasan memberi isyarat bahwa peristiwa kulminasi telah terjadi. Seru juga kelihatannya, sayangnya tidak bisa melihat langsung karena datang terlambat.

Setelah capek berkeliling, sekarang saatnya kami beristirahat sebentar. Kebetulan ada panggung yang didirikan untuk menghibur para pengunjung. Senandung indah terdengar mengalun ketika pentolan grup band ARWANA Hendri Lamiri memainkan biola dengan jemarinya yang lentik. Oh iya, mungkin diantara teman-teman tahu dengan grup band ini ya. Meskipun sempat lama vakum di blantika musik Indonesia, setidaknya pertunjukan mereka pada event ini menjadi pengobat rindu bagi para penggemarnya yang ada di Kalimantan Barat. Grup ARWANA sendiri merupakan salah satu grup band pontianak yang sukses menembus pasar Indonesia dengan beberapa hits terkenalnya. Disitu juga mereka membawakan sebuah lagu terbaru mereka dari album terbaru ASA yang berjudul KUNANTI, rencananya album baru ini akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2010.

Oke, sekarang waktu sudah semakin siang. Lihat kelangit juga sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Setelah menikmati hidangan snack yang diberikan oleh panitia, kami bertiga bergegas pulang. Berharap hujan belum keburu mengguyur dan bisa sampai dirumah masing-masing dengan selamat. (DW)

You might also like More from author

Comments

Proses...