Panduan Tata Cara Sholat Gerhana dan Pelaksanaannya

Satu peristiwa penting akan terjadi di kota Pontianak tanggal 9 Maret 2016 ini. Sebuah fenomena alam berupa gerhana matahari yang akan melintasi 12 provinsi di Indonesia akan menjadi bukti bagaimana kebesaran Allah SWT  sebagai Sang Maha Pencipta dunia dan seisinya. Menurut informasi yang diperoleh dari laman Wikipedia, peristiwa terjadinya gerhana matahari ini sudah pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1983, 1988, dan 1995. Dan gerhana matahari total yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 diperkirakan baru akan terjadi lagi pada 2023.

Sebagai umat muslim yang beriman dan bertakwa, janganlah kita memandang remeh akan terjadinya fenomena alam ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memberi peringatan bagi para umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana baik itu gerhana matahari ataupun bulan.

Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Tata Cara Sholat Gerhana

TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT GERHANA

Berikut adalah tata cara pelaksanaan sholat gerhana:

  • Takbiratul Ihram
  • Membaca Do’a Iftitah
  • Membaca Surah Al-Fatihah
  • Membaca Surah Dalam Al-Qur’an (Surah Panjang)
  • Ruku’ Pertama (Membaca Do’anya)
  • Bangkit dari Ruku’ dan Membaca “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabban Wa Lakal Hamd” (Tangan Masih dalam Posisi Sedekap). Dilanjutkan dengan Membaca Al-Fatihah dan Surah dalam Al-Qur’an
  • Ruku’ Kedua (Membaca Do’anya)
  • Bangkit dari Ruku’ (I’tidal)
  • Sujud Pertama (Membaca Do’anya)
  • Bangun dari Sujud dan Membaca Do’a Duduk Diantara Dua Sujud
  • Sujud Kedua (Membaca Do’anya)
  • Bangkit dari Sujud Kedua dan Mengerjakan Rakaat Kedua Sebagaimana Rakaat Pertama (Surah Panjang Namun Lebih Pendek dari Rakaat Sebelumnya)
  • Tasyahud Akhir
  • Salam

Keterangan:

  • Setelah selesai dilanjutkan dengan khutbah

WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA

  1. Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  2. Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
  3. Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
  4. Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
  5. Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)

Demikian secara ringkas penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan shalat gerhana, semoga bermanfaat. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Informasi shalat gerhana matahari di kota Pontianak, dilaksanakan pada Rabu , 9 Maret 2016

  1. Masjid Raya Mujahidin, Khotib: Dr.H.Harjani Hefni, Lc, Ma.
  2. Masjid Darul Falah, Khotib: Ustadz H. Shohihin Nahyus, S.Pd.I
  3. Masjid Syaiful Islam
  4. Masjid Haruniyah, Pontianak Timur, Khotib: Ustadz H.Burhansyah M. Yunus Mohan, S.Ag, M.Pd.
  5. Masjid Miftahudin, Jl. Selayar, Khotib: Ustadz Abdul Wahab Al Hafiz
  6. Masjid Al Ijtihad, Jl. Imam Bonjol Gg. Peniti, Khotib: Ustadz Aswandi M.Nur, SE.
  7. Masjid Asmaul Husna Komplek Purnama Permai, Imam dan Khotib: Abuya Nanang Zakaria

Sumber Referensi:

  • http://www.eramuslim.co/shalat/adi-nurcahyo-tatacara-shalat-gerhana.htm
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana_matahari_9_Maret_2016

You might also like More from author

Comments

Proses...