Meski Keturunan Cina, Saya Muslim, Anti PKI, dan Tetap Cinta NKRI

Sedang asyik ber-facebook ria siang hari ini, Blogger Borneo langsung dikagetkan dengan kemunculan sebuah postingan dari beberapa portal online sekaligus yang judulnya yaitu “Saya Keturunan Cina, Saya Muslim, Saya Anti PKI dan Saya Cinta NKRI“. Melihat judul tersebut, Blogger Borneo langsung teringat dengan status milik sahabat bernama Bonie yang baru saja dibuatnya kemarin.

Tak lama setelah postingan-postingan tersebut menyebar, ternyata sang pembuat status baru sadar dan mungkin juga turut merasa kaget karena tidak ada satupun konfirmasi dari para pemilik portal online tersebut sebelum mempublikasi ulang statusnya di blog portal online milik mereka. Ya untung saja dalam status tersebut tidak ada kalimat-kalimat yang “membahayakan” sehingga dampaknya tidak terlalu terasa.

Oh iya, barusan Blogger Borneo mendapat update bahwa barusan ada salah satu pemilik portal online menghubunginya secara pribadi untuk melakukan “Tabayyun”. Yang bersyukurlah masih ada yang merasa “tersindir” dan langsung melakukan proses konfirmasi meskipun terlambat, daripada tidak ada sama sekali seperti yang dilakukan oleh beberapa portal online lainnya. 😀

Ku Fen Sui Foto Bersama Sang Anak
Ku Te Fa Foto Bersama Sang Anak

Foto diatas merupakan hasil dokumentasi yang diambil Bonie baru-baru ini. Nah, secara lengkap kawan-kawan bisa membaca status milik salah seorang sahabat Blogger Borneo tersebut disini. Sedangkan di tulisan ini Blogger Borneo hanya akan menggambarkan secara umum bahasa dari status tersebut setelah sebelumnya sempat melakukan wawancara secara internal tadi malam.

Saya Keturunan Cina, Saya Muslim, Saya Anti PKI dan Saya Cinta NKRI

Judul status diatas sengaja dibuat seperti itu dengan tujuan ingin memberikan gambaran secara GAMBLANG bahwa meskipun Bapak dan Kakeknya seorang perantau dari Negeri Tiongkok, namun dalam perjalanan hidupnya Allah SWT mengijinkan Ayahnya menjadi seorang Muslim dan tetap memilih jalan untuk membela negara Republik Indonesia hingga akhir hayatnya.

Ada satu kisah yang cukup tragis diceritakan ketika Kakeknya (Ahkong) bernama Ku Fen Sui dibunuh dengan cara dipenggal dimana sebelumnya diculik di rumahnya yang berada di seputaran Supermarket Harum Manis dan Kelenteng Tua Jl. KH. Agus Salim (Kota Pontianak a.k.a Khuntien) waktu dinihari. Kejadian ini terjadi pada tahun 1937, Kakeknya dianggap telah melakukan perlawanan kepada penjajah dengan menjadi penyokong dana para pejuang khususnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ku Fen Sui Ketika Masih Muda
Ku Te Fa Ketika Masih Muda

Pada saat itu, kondisi Nenek (Amma) sedang hamil anak pertama dari pernikahan mereka. Tentu tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya ketika melihat sang suami tercinta kembali dalam keadaan tidak bernyawa dan tanpa kepala. Beberapa lama kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Mei 1937 sang anak pun lahir ke dunia dalam kondisi sehat wal afiat. Namun tidak demikian dengan Ibundanya, karena merasa tertekan atas kematian suaminya harus mengalami kondisi stres berat hingga Beliau yang bermarga Djong wafat.

Kondisi tersebut membuat anak tunggal dari “marga KU” itu harus sudah berjuang dari kecil dan besar dari hidup menumpang dengan saudara-saudara ibu-bapaknya secara berpindah-pindah. Proses kehidupan seperti ini mampu membuat dirinya tumbuh dan bergaul bersama Pribumi, hingga akhirnya pada tahun 1960 Beliau pun bergabung bersama Angkatan Perang Republik Indonesia.

Selama menjadi tentara NKRI, Beliau banyak melewati beberapa peperangan, antara lain: Pertempuran Dwikora, Trikora, Penumpasan DI-TII, Konfrontasi Malaysia hingga Penumpasan PKI. Meski dalam salah satu pertempurannya sempat tersiar kabar bahwa beliau tertangkap Tentara Gurka saat Konfrontasi Malaysia pecah, namun sampai detik ini Alhamdulillah Beliau masih dalam kondisi sehat wal afiat.

“Banyak cerita seru yang Beliau ceritakan dengan semangat membara ketika melalui pertempuran demi pertempuran. Beliau menguasai 5 bahasa Cina, yaitu Hokien, Konghu, Tiociu, Khek, dan Mandarin, bahkan Tulis Cina pun Beliau kuasai.” demikian jelas singkat dari Bonie.

Bonie menambahkan, meski memiliki keturunan Cina asli, namun Kami anaknya tidak pernah ia didik sebagai Cina yang lupa akan Negeri tercinta, Ia selalu didik Kami sebagai Cina dari anak Bangsa Indonesia yang wajib memiliki Jiwa Patriotisme. Baginya Agama diatas SEGALANYA, Kemudian Bangsa dan Negara tempat kita bernaung adalah Atap yang mesti kita jaga agar jangan sampai runtuh, sementara budaya leluhur cukuplah jadi pengingat siapa kita SEBENARNYA.

“Bapak ku adalah salah satu dari sangat-sangat sedikit Cina yang bisa jadi Tentara Nasional Indonesia pada saat itu. Dimana Beliau adalah prajurit yang ikut menumpas Para Komunis Biadab di negeri ini. Lalu, akankah sekarang kita diam melihat kondisi seperti ini??? Kamu dan saya serta semua Cina yang lahir di Bumi Pertiwi, ikrarkanlah sumpah kalian bahwa Negara Kita satu Indonesia, Bahasa kita satu Indonesia dan Bangsa kita satu Indonesia.” Bonie memberikan penegasan dengan penuh semangat sesaat sebelum mengakhiri sesi wawancara internal ini.

Semoga tulisan Saya Keturunan Cina, Saya Muslim, Saya Anti PKI dan Saya Cinta NKRI ini bisa memberikan kesan dan pandangan bagi kita bahwa nasionalisme itu tidak melihat suku bangsa, agama, ataupun ras. Dan semoga kita bisa bercermin dari kejadian masa lalu, jangan sampai disaat kita sesama rakyat NKRI saling gontok-gontokan dan berdebat tanpa akhir melalui media sosial, justru paham-paham komunis secara tanpa sadar masuk dalam celah-celah kehidupan kita. Jadilah pengguna media sosial yang cerdas dan peka dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini. #ThinkBeforePosting #ThinkBeforeDoSomething. (DW)

Referensi Tulisan:

  • https://www.facebook.com/ku.k.sin/posts/10206922690420572?pnref=story

You might also like More from author

Comments

Proses...