Maarif Institute: Pontianak Urutan Kelima Kota Islami Se-Indonesia

Dalam satu kesempatan ketika sedang melaksanakan ibadah sholat tarawih perdana di Masjid Raya Mujahidin, Minggu (05/06/2016), Wali Kota Pontianak, Bapak Drs. Sutarmidji, M.Hum memberikan informasi mengenai hasil rilis Indeks Kota Islami (IKI) Se-Indonesia yang dilakukan oleh sebuah lembaga bernama MAARIF Institute for Culture and Humanity.

Secara lengkap, lembaga yang didirikan pada tahun 2002 ini memiliki dasar lembaga sebagai gerakan kebudayaan dalam konteks keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan. Menurut pendiri MAARIF Institute, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), ketiga konteks ini merupakan hal pokok dan terpenting dalam perjalanan inteletualisme dan aktivisme.

Di depan para jemaah, Sutarmidji menjelaskan bahwa dari 29 kota yang diteliti oleh lembaga yang berkedudukan di Jakarta itu, Kota Pontianak menempati peringkat kelima sebagai kota yang Islami. Sedangkan untuk peringkat pertama ditempati Yogyakarta, kedua Bandung, ketiga Denpasar dan posisi keempat adalah Bengkulu.

Sutarmidji Ketika Sedang Berada di Depan Para Jamaah Tarawih Masjid Raya Mujahidin Kalimantan Barat
Sutarmidji Ketika Sedang Berada di Depan Para Jamaah Tarawih Masjid Raya Mujahidin Kalimantan Barat (Sumber: PontianakKota.Go.Id)

Sutarmidji menambahkan, meskipun sebagai kota yang penduduknya heterogen, Pontianak masih ditempatkan sebagai kota yang Islami. “Sebab keempat kota yang peringkatnya di atas Pontianak, rata-rata masyarakatnya cenderung homogen,” ujarnya seperti dilansir dari PontianakKota.Go.Id, Minggu (05/06/2016).

Dari hasil rilis indeks Kota Islami ini, dapat disimpulkan bahwa keinginan masyarakat dalam menjalankan ajaran agama terutama agama Islam semakin meningkat. Selain itu, masyarakat pemeluk agama Islam di Pontianak juga dinilai memiliki rasa toleransi yang tinggi dan sangat menghormati pemeluk agama lainnya.

“Artinya, Konstitusi Madinah itu betul-betul terimplementasi dengan baik di sini,” ucapnya.

“Piagam Madinah (Bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.” – Wikipedia Indonesia

Masjid Raya Mujahidin Kebanggaan Masyarakat Kalimantan Barat
Masjid Raya Mujahidin Kebanggaan Masyarakat Kalimantan Barat (Sumber: Dok. Pribadi)

“Supaya di dalam masyarakat yang heterogen ini, Konstitusi Madinah itu mampu menjadi perekat dan membawa kesejahteraan masyarakat Pontianak itu sendiri,” imbuhnya.

Tidak lupa dalam kesempatan ini Sutarmidji juga mengajak para jamaah untuk meningkatkan amal ibadah serta kualitas ibadahnya. Tantangan umat Islam ke depan semakin hari akan semakin besar, terutama dalam tataran implementasi ajaran-ajaran agama Islam.

“Sebagai umat Islam, mari kita berupaya untuk betul-betul bisa menjalankan ajaran agama yang dianut dan kualitas ibadah semakin baik,” pungkasnya. (DW)

Sumber Referensi:

  • http://www.pontianakkota.go.id/2016/06/06/berpenduduk-heterogen-pontianak-urutan-kelima-kota-islami/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah
  • http://maarifinstitute.org/id/tentang-kami/profil#.V1d4d75ti70

 

You might also like More from author

Comments

Proses...