Kurikulum 2013: Abad 21 Tanpa Teknologi Informasi dan Komunikasi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang didalamnya mencakup pengembangan isi/materi pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran, serta penggunaan sistem evaluasi. Secara tidak langsung menuntut dunia pendidikan untuk dapat membekali peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

UU nomor 20 tahun 2003 mendefinisikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dalam pembukaan alinea keempat menetapkan tujuan pendidikan nasional, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, yang dalam hal ini adalah membentuk manusia yang beriman dan berakhlak mulia, serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan kurikulum merupakan sebuah keniscayaan karena seiring dengan perkembangan pemikiran manusia, dewasa ini banyak dihasilkan temuan-temuan baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia seperti kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik dan kehidupan lainnya. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013.

Pendidikan adalah kata kunci dalam setiap usaha peningkatan kualitas kehidupan manusia yang berperan dan bertujuan “memanusiakan manusia”. Dalam hal ini, pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan, karena sasarannya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kurikulum 2013 Yes or No
Sumber: defantri.blogspot.com

Dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Hal ini terkait erat dengan perkembangan teknologi yang cepat dan semakin ketatnya persaingan di berbagai bidang. Upaya peningkatan SDM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia salah-satunya melalui kurikulum pendidikan nasional.

Pada tahun ajaran 2013/2014 pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai menerapkan Kurikulum 2013 untuk menggantikan kurikulum 2006 (yang sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kemudian berdasarkan Permendikbud nomor 60 tahun 2014 tertanggal 11 Desember 2014, pelaksanaan Kurikulum 2013 dihentikan dan sekolah-sekolah untuk sementara kembali menggunakan Kurikulum 2006 paling lama sampai tahun ajaran 2019/2010. Penerapan Kurikulum 2013 tidak bisa dipungkiri menimbulkan pro dan kontra diberbagai pelaku pendidikan, mulai dari siswa, sekolah dan masyarakat pada umumnya.

Salah satu permasalahan yang muncul diterapkannya Kurikulum 2013, yaitu dihapuskannya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) didalam struktur kurikulum. Penghapusan mata pelajaran tersebut adalah fenomena yang menarik sekaligus absurd disaat perkembangan Teknologi Informasi dalam segala sektor.

Fakta dilapangan pada saat masih ada mata pelajaran TIK/KKPI peserta didik sangat menyukai pelajaran tersebut karena langsung berhubungan dengan kebutuhan peserta didik saat ini dan akan mempermudah peserta didik menghadapi tantangan global di abad 21 ini. Sebelum dan pada saat pembelajaran TIK/KKPI berlangsung peserta didik sangat antusias untuk mengikuti pelajaran tersebut.

Sebenarnya mata pelajaran TIK/KKPI dimaksudkan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu mengantisipasi pesatnya perkembangan zaman. Mata pelajaran ini perlu diperkenalkan, dipraktikkan dan dikuasai peserta didik sedini mungkin agar peserta didik memiliki bekal untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat.

Kurikulum 2013 Dihentikan
Sumber: edukasi.kompasiana.com

Konsekuensi dari penghapusan mata pelajaran TIK tersebut pada akhirnya guru dan peserta didik hanya menjadi konsumen TIK saja. Tak ada lagi ruang bagi guru dan peserta didik untuk memanfaatkan TIK menjadi produsen produk teknologi yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Bahkan lebih dari itu, generasi muda nantinya dikhawatirkan akan bisa menyalahgunakan teknologi karena tidak diberikan pembelajaran khusus etika dalam pemanfaatan TIK.

Niat pemerintah untuk mengakomodir kebutuhan peserta didik terhadap TIK melalui Permendikbud nomor 68 tahun 2014 tidak bisa terwujud, selain karena minimnya bahkan tidak ada sosialisasi terhadap Permendikbud tersebut kepada sekolah-sekolah, ternyata permendikbud tersebut tidak mengembalikan TIK/KKPI kedalam kurikulum sebagai mata pelajaran khusus. Kemudian Permendikbud nomor 45 tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi Dalam Implementasi Kurikulum 2013, yang ditetapkan 9 Nopember 2015 hanya memberikan ruang kepada Guru TIK untuk melaksanakan bimbingan TIK saja, sehingga kebutuhan peserta didik akan bidang keilmuan TIK/KKPI kembali tidak tercapai.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi pada kurikulum sebelumnya (baca: KTSP) sudah ketinggalan zaman dan mesti direvisi untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Untuk itu yang harus dilakukan pemerintah saat ini, yaitu pertama mengembalikan mata pelajaran TIK/KKPI ke dalam kurikulum pendidikan nasional, jangan hanya menganggap TIK sebagai tools saja tetapi TIK tetaplah sebagai bidang keilmuan. Kedua, meng-upgrade standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran TIK/KKPI dengan kebutuhan untuk mewujudkan generasi emas. Ketiga, pemerintah mendorong pengembangan kompetensi guru-guru TIK/KKPI, misalnya dengan mengembangkan e-learning atau tulisan-tulisan melalui blog/media digital.

Oleh: Fikrul Setiawan, S.Pd

Ketua Umum Ikatan Alumni Mahasiswa Pendidikan TIK IKIP-PGRI Pontianak

Link Facebook: https://www.facebook.com/fikrul?fref=ts

You might also like More from author

Comments

Proses...