Harga Mahal untuk Sebuah Predikat Standar Internasional

Dalam kalender pendidikan, bulan Juni dan Juli bisa dimasukkan dalam “periode sibuk” bagi para orang tua murid karena pada bulan-bulan tersebut proses perpindahan dan kenaikan angkatan pendidikan terjadi secara hampir bersamaan. Mulai dari tingkatan Taman Kanak-Kanak (TK) naik ke Sekolah Dasar (SD), dari SD ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), dari SMP ke Sekolah Menengah Umum (SMU), dan seterusnya. Yang pasti, dalam dua bulan ini para orang tua murid sudah harus mempersiapkan jauh-jauh hari dari sisi moril maupun materiil untuk menghadapi momen-momen bersejarah bagi anaknya tersebut.

Sepertinya apa yang baru saya tuliskan diatas dialami juga oleh salah seorang keluarga saya. Secara kebetulan, anak perempuannya baru lulus dari salah satu Sekolah Dasar Negeri di kota Pontianak dengan predikat yang cukup memuaskan. Oleh karena itu dia mencoba untuk “mengadu nasib” dengan mendaftar di salah satu SMP berpredikat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau yang lebih dikenal dengan istilah RSBI di kota Pontianak.

Jika dilihat secara sekilas, dari istilah yang digunakan sepertinya sekolah-sekolah yang mendapat predikat RSBI itu bisa dikategorikan sebagai SEKOLAH TERBAIK dan biasanya BEBAS BIAYA PENDIDIKAN. Mungkin kalau mau dibandingkan, konsep RSBI ini hampir sama dengan konsep yang digunakan oleh beberapa institusi pendidikan tinggi berbasis ikatan dinas karena untuk mendaftarnya saja harus melalui beberapa proses penerimaan yang cukup selektif. Yang pasti untuk seleksi administrasinya saja, beberapa dokumen seperti: Surat Kelakuan Baik, Surat Kesehatan, dan Sertifikat Kursus Komputer sudah harus dilampirkan. Setelah itu, tes seleksi masuk baru dapat dilakukan untuk menyaring jumlah siswa yang dapat mengisi “jatah kursi” tersedia.

Nah, permasalahan justru timbul setelah para siswa telah terseleksi sesuai “jatah kursi” yang disediakan. Setelah secara “resmi” menyandang “gelar” siswa sekolah RSBI, ternyata untuk tiap bulannya para orang tua murid dari setiap siswa tersebut akan dikenakan biaya sekolah yang nilainya justru diatas rata-rata uang bulanan sekolah umum. Jadi kalau begitu, perbedaan antara sekolah berkategori RSBI dengan berkategori umum itu apa. Apakah sudah menjamin dengan masuk di SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL maka siswa-siswa tersebut nantinya akan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Atau bahkan mungkin beberapa diantara mereka sudah ada yang bisa ditugaskan untuk magang di perusahaan-perusahaan bonafit yang ada di Indonesia. Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut khusus diperuntukkan bagi konseptor-konseptor RSBI itu sendiri.

Ada beberapa kekuatiran dalam diri saya jika melihat konsep seperti ini terus dipertahankan, antara lain:

  1. Sekolah-sekolah bertaraf internasional ini nantinya akan diisi oleh siswa-siswa pintar yang memiliki latar belakang ekonomi orang tua diatas rata-rata. Sedangkan yang masuk kategori GOLEKLEMAH alias GOLONGAN EKONOMI LEMAH, kecil kemungkinan untuk bisa masuk dalam sekolah berkategori internasional ini
  2. Akan terjadi kesenjangan sosial antara kelompok siswa yang berasal dari sekolah berkategori umum dengan sekolah berkategori RSBI karena status yang disandang adalah “SISWA SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
  3. Belum siapnya Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya para guru menyebabkan kemungkinan besar proses pendidikan yang diterapkan tidak berjalan secara maksimal. Diharuskannya sistem pengajaran dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa asing sepertinya akan menjadi satu momok bagi guru-guru “angkatan lama” karena yang pasti mereka harus menguasai bahasa asing tersebut sebelumnya.

Jadi, kembali kepada kisah keluarga saya diatas sepertinya situasinya akan menjadi serba salah jika seandainya nanti sang anak lulus seleksi dan resmi menjadi siswa sekolah berkategori RSBI tersebut. Di satu sisi tentunya orang tua sangat senang jika bisa melihat sang anak dapat memperoleh pendidikan yang terbaik bagi dirinya, namun di sisi lain keterbatasan kondisi ekonomi sepertinya akan menjadi penyebab paman saya tersebut berpikir dua kali mengenai keinginannya tersebut. Dan saya kira, apa yang dialami keluarga saya ini turut juga dialami oleh ribuan atau bahkan jutaan orang tua diluar sana. (DW)

Sumber Gambar:

  • http://www.globalmuslim.web.id/2011/07/sekolah-semakin-sulit-dan-mahal.html

You might also like More from author

Comments

Proses...