Catatan Saya Seorang Muslim yang Belum Sempurna

Assalamualaikum Wr. Wbr.

Dengan cinta dan kebenaran,

Beberapa hari ini saya kerap bicara tentang AKSI DEMONSTRASI BELA ISLAM, ada yang pro dan kontra mengenai hal ini. Maaf kawan soal Iman saya Non Toleran. Saya bukan menghujat Agama apapun, bukan menggurui, bukan menyindir, bukan pula memutus silaturrahim. Tapi kalau sekiranya antum tak suka dengan apa yang saya tulis, apa yang saya tuangkan dalam Sismed ini, silahkan unfriend saya. Saya bukan Ekstrimis, saya belum mampu jadi Muslim yang kuat, saya belum sanggup jadi Muslim yang taat, tapi ada sedikit api kecil bernama Iman tersisa dihati saya.

Lalu kemarin ada yang berkata “Lu udah sempurna sampe ngurusin Ahok??? Apa sikap Lu udah lebih baek daripada dia? Apa Sholat Lu dan ibadah lainnya udah bener sampe Lu ikut-ikutan menghujat? Mending perbaiki diri Lu, ibadah Lu daripada Lu ngomen si Ahok”.

Kawan, aku memang bukan Muslim yang taat, aku mungkin pernah nyantri tapi aku masih sangat hitam dan lalai, sholat ku mungkin tak sempurna, puasaku mungkin sering batal karena banyak khilaf, tapi itu tadi… Meskipun aku selemah-lemahnya Muslim atau seburuk-buruknya Muslim. Aku masih punya pelita Iman yang walau redup tapi tidak akan mati dihatiku. Maka dari itu aku ikut bersuara, karena aku tahu aku banyak dosa makanya aku berusaha perbaiki diri. Justru karena aku berlumur dosa makanya aku berusaha membela apa yg seharusnya dibela, bahkan berkorban bila perlu ketika ada kesempatan.

Bukan soal egois, bukan soal Sukses atau tidaknya DEMO BELA ISLAM nanti, bukan soal ikut-ikutan terprovokasi atau mengompori, tapi ini soal Ghirah, soal Hati yang terbakar karena diusik oleh pengganggu yang tak faham bahwa apa yang ia usik lebih berharga daripada Emas, sekali lagi ini murni panggilan Hati kawan.

Umat Islam di China Sedang Berdo'a Bersama Sebelum Berbuka Puasa
Umat Islam di China Sedang Berdo’a Bersama Sebelum Berbuka Puasa (Sumber: Facebook.Com)

Jiwa ku adalah milik Allah Tuhan dari Alam Semesta, Penguasa Alam Ruh, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzah sampai Alam Akhirat nanti. Ia sebagai Rabbul Izzati tak butuh dibela oleh saya, atau kami yang bersuara. Tapi kami yang butuh membelaNya sebagai bukti kecintaan kami. Sebagai tanda patuhnya kami, dan sebagai bukti kami menggenggam syahadat kami dari Hati.

Selama ini saya berteman dengan siapa saja, kaum mana saja, aliran apa saja, suku apa saja, ras apa saja, saya berteman. Kawan saya ada yang Nasrani, Khatolik, Konghuchu,Ortodox, Advent, Pantekosta, Budha, Hindu, Islam, bahkan ada yang tak beragama, apa saya pernah bersinggungan dengan mereka soal iman??? Jawabnya Tidak karena kami saling menghargai, saya sering bahkan berdiskusi dan berdialog dengan mereka, mereka bagai saudara bagi saya di Dunia ini karena eratnya hubungan.

Teman saya juga terdiri dari berbagai ras dan suku, ada China, Indonesia, Malaysia, Rusia, Turki, Australia dan lainnya… Tapi apakah saya pernah berselisih dengan mereka soal Aqidah??? Jawabnya tidak, karena mereka menghargai apa yang namanya perbedaan iman dan budaya, bahkan kami saling memotivasi untuk bertukar budaya dan adat dalam dialog dengan keakraban. Setiap Agama saya tau pasti mengajarkan kebaikan, tapi pemeluk agama wajib berfikir Agamanyalah yang terbaik. Bahkan itu Mutlak hukumnya, buat apa beragama jika tak yakin agamanya yang paling benar dan paling baik?

Kawan, saya pernah bermimpi “suatu masa saya hanyut dalam sebuah banjir bandang dan saya hanyut karena menolong seorang anak kecil, lalu saya seakan hampir mati tenggelam, namun kemudian saya terselamatkan oleh sebatang kayu yang saat saya sudah selamat ditepian, saya perhatikan itu adalah sebuah Salib Besar bukan kayu biasa”.

Saat saya bercerita pada Umat Muslim mereka menguatkan Iman saya, Saat saya bicara pada kawan umat Nasarah maka mereka mengajak saya untuk hijrah kepada Iman mereka. Saya hargai semua pendapat, kemudian mimpi itu berulang dengan mimpi berbeda tapi intinya sama, yaitu Salib, Isa dan Nasrani. Namun inilah saya, seorang Muslim dengan selemah-lemahnya iman. Namun sampai hari ini dan InsyaAllah selamanya saya tetaplah Muslim.

Maka kawan, saya tidak benci Agamamu, Saya tidak mengecilkan kalian sebagai minoritas dinegeri yang Majemuk ini, saya tidak benci statement mu yang berkata saya ikut2an, saya tak benci sikap mu yang anggap kami intoleran, saya tak benci ucapan mu yang berkata kami SARA, kenapa saya tak benci??? Karena kalian tak mengerti Agama kami, ketahuilah kawan, bahwa agama kita berbeda sangat berbeda dan bukan bermusuhan tujuan utama saya, tapi saya menjalankan aturan Agama saya.

Sekali lagi Agama kita berbeda kawan, Ibadah dan amal shalih saja tak cukup dalam agamaku yang Mulia dan indah, Agama ku mengatur kami sedemikian rupa bahkan bernafas, makan, minum, melangkahkan kaki dan maaf “Buang hajat” pun diatur dalam agama saya. Semua dimulai dengan doa dan niat yang baik, agama saya sangat mengikat dan detail kawan. Bercermin ada doanya, berpakaian ada doanya, bersisir ada doanya, tidur ada doanya, bangun tidur ada doanya, bicara harus banyak berdzikir dan manfaat, bercanda tidak melewati batas, dan ribuan aturan lainnya yang sangat mendetail. Hingga untuk berpolitik pun kami diatur oleh agama kami, lalu salah kah kami yang menyampaikan Ayat dalam Kitab Suci Agama kami, yang menyampaikan apa yang sewajibnya kami sampaikan.

Dan ketika ada yang bilang menyampaikan apa yang kami anggap kebenaran adalah suatu trik kebohongan atau pembodohan, apakah kami harus tersenyum???? Apakah kami harus berkata “ah biarkan saja”… Apakah kami harus menyanjung penghina tersebut???? Jika kami lakukan itu apa kalian anggap kami sudah cukup beriman? Atau lebih baik????

Maaf kawan, selemah-lemahnya iman saya, saya tetaplah Muslim yang punya Ghirah. Punya Amarah jika Agama kami diusik, kami akan bersatu. Jadi tolong hargai sikap saya, bukan saya memusuhi Antum, bukan saya hujat agama Antum sekali lagi bukan. Tolong jangan buat kami ikut membenci antum, STOP katakan kami diprovokasi, STOP katakan kami SARA, STOP katakan kami Intoletan, STOP katakan sesuatu yang kalian tak faham. Kami tidak akan memusuhi kalian, maka jangan poaisikan dirivkalian adalah muauh kami.

Persaudaraan kita sebagai kawan tak akan putus, namun saya lebih siap kalian tinggalkan wahai kawan-kawan terbaik ku daripada untuk berteman aku harus korbankan Iman ku. Dengan aku diam dan ikuti mau kalian sama saja aku telah menukar Iman dengan persahabatan. Sebab apalah artinya persahabatan, takkan ada persahabatan yang Mulia jika tidak beriman.

Seperti yang aku katakan sahabat itu ada banyak tapi Tuhan cuma satu, lebih baik aku tak berkawan daripada aku tak berTuhan… Dengan pertaruhkan nyawapun aku takkan ubah sikapku dan akan apa yang aku anggap Iman wahai kawan ku.

Buat sahabat Mujahid yang akan berjihad dalam Demo Akbar tanggal 4 November nanti Insya Allah, ingat demo kita bukan demo rusuh, demo kita bermartabat, karena nama Islam kita pertaruhkan disini. Muslim bukan pengexut, Muslim bukan penakut dan Muslim bukan penghasut, kita berani karena benar. Doa ku dan kami umat Muslim semua berserta kalian wahai pembela Kitabullah.

AllahuAkbar… AllahuAkbar…. Allahuakbar….

Dengan cinta….

Semoga Allah merahmati kita semua, dan selalu diberi hidayah olehNya.

Barakallah

Pontianak, 02-11-2016.

Sumber Tulisan:

  • https://www.facebook.com/ku.k.sin/posts/10206539337276983?pnref=story

You might also like More from author

Comments

Proses...