Cap Go Meh, Asal Usul Sejarah dan Tradisi Perayaannya

Tidak lama lagi masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat akan merayakan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh. Khusus pada perayaan Cap Go Meh, setiap tahunnya pemerintah daerah menjadikan momen sebagai salah satu agenda wisata Kalimantan Barat yang dipusatkan di Kota Singkawang.

ASAL USUL CAP GO MEH

Jika berbicara mengenai asal usul, Cap Go Meh memiliki beberapa definisi. Menurut dialek Tiociu atau Hokkien, Cap Go Meh merupakan perayaan malam (Meh) ke lima belas (Cap Go) setelah Imlek. Sedangkan dalam dialek Hakka disebut sebagai Cang Nyiat Pan yang berarti bulan satu (Cang Nyiat) dan pertengahan (Pan). Sementara di daratan Tiongkok, dalam bahasa Mandarin disebut sebagai Yuan Shiau Ciek yang berarti Festival Malam Bulan Satu atau lebih dikenal di negeri barat sebagai Lantern Festival (Festival Lentera).

Menurut salah satu budayawan Tionghoa di Kalimantan Barat, Lie Sau Fat menyatakan bahwa setiap hari raya masyarakat Tionghoa, baik religius maupun tradisi budaya memiliki asal-usul yang diceritakan dari mulut ke mulut berdasarkan legenda ataupun buku dengan beragam versi, tergantung budaya, tradisi dan daerah masing-masing. Lie Sau Fat atau lebih dikenal dengan nama XF Asali ini menjelaskan bahwa definisi perayaan Cap Go Meh memiliki dua versi. Versi pertama adalah Yuan Shiau Ciek yaitu satu di antara festival yang dirayakan sejak Dinasti Xie Han (206 SM-24 M) untuk menandakan berakhirnya perayaan tahun baru Imlek.

Perayaan Cap Go Meh Singkawang
Perayaan Cap Go Meh Singkawang (Sumber: Robin Lung)

XF Asali menambahkan, secara religius pada masyarakat penganut Taoisme, Cap Go Meh dikenal sebagai San Yuan yaitu hari lahir Shang Yuan Thian Kuan atau Dewa Langit yang memberikan karunia pada manusia. Sementara pada Dinasti Tung Han (25-220), dibawah masa kepemimpinan Kaisar Liu Chang, perayaan Yuan Shiau Ciek dilakukan untuk menghormati Sang Buddha Sakyamuni yang telah menampakkan diri pada tanggal 30 bulan 12 Imlek di Daratan Barat. Tanggal ini ditafsirkan sama dengan tanggal 15 bulan 1 Imlek di Daratan Timur. Oleh karena itu, Kaisar juga memerintahkan rakyatnya sembahyang syukuran, arak-arakan, memasang lampion, dan atraksi kesenian rakyat pada malam hari tepatnya Cap Go Meh.

Perayaan Cap Go Meh tersebut berlanjut secara turun-temurun hingga sekarang masih diperingati masyarakat Tionghoa yang menganut Tri Dharma (Sam Kaw) sebagai hari raya religius umat Taoisme, Budhis, dan Konghucu. Sedangkan untuk etnis Tionghoa lainnya, dirayakan sebagai hari raya tradisi budaya Yuan Shiau Ciek atau Cap Go Meh atau Lantern Festival sesuai kondisi dan situasi masing-masing.

Atraksi Tatung Festival Cap Go Meh Singkawang
Atraksi Tatung Festival Cap Go Meh Singkawang (Sumber: Robin Lung)

Sementara pada versi lainnya XF Asali menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Dinasti Tung Zhou (770 SM – 256 SM), para petani memasang lampion pada tanggal 15 bulan 1 Imlek di sekeliling ladang. Kebiasaan yang biasa disebut sebagai Chau Tian Can ini dilakukan untuk mengusir hama dan menakuti binatang perusak tanaman. Petani saat itu juga melihat perubahan warna api dalam lampion (Ten Lung) yang dipercaya dari perubahan warna api dalam lampion pada malam itu dapat diketahui cuaca yang akan datang, yaitu apakah kemarau panjang atau lebih banyak hujan sepanjang tahun.

BACA JUGA: FESTIVAL CAP GO MEH SINGKAWANG

Dengan demikian, setiap tahun pada hari yang sama petani akan memasang lampion di sekeliling ladang. Setiap tahun semakin bertambah banyak lampion yang dipasang sehingga membentuk suatu pemandangan yang indah pada tanggal 15 bulan 1 Imlek. Menurut XF Asali, kepercayaan dan tradisi budaya tersebut terus berlanjut dan turun temurun sampai sekarang di daratan Tiongkok maupun di daerah perantauan di seluruh dunia sesuai kondisi dan situasi negara masing-masing, termasuk juga perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat. (DW)

Sumber Referensi:

  • http://pontianak.tribunnews.com/2015/03/07/asal-usul-perayaan-cap-go-meh?page=3

You might also like More from author

Comments

Proses...