Bahkan, Malam Pertama Pun Belum Usai

Demi Panggilan Jihad, Sang Pemuda Pun Meninggalkan Keindahan Malam Pertamanya.

Duhai…

Langit begitu memesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Suguhan orkestra dari penghuni malam laksana simfoni indah. Seketika romansa pun tercipta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Namun…

Sayup terdengar seruan. Semakin lama kian lantang,

“Haiya ‘alal jihad… haiya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Ia bergegas bangkit dari pangkuan belahan hatinya. Cepat pula tangan meraih sebilah pedang dan perisai.

Kekasih sesaat tercekat. Melagukah hati karenanya? Tidak! Segera ditepisnya ragu. Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’a-lah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah.

Pejuang Jihad Allah
Sumber: http://hystoryana.blogspot.co.id

Perang berkobar. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Setindak kemudian ia ikut melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedang berkelebatan. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang. Nyawa gembong kaum musyrikin itu ada di ujung pedang. Tapi ia lengah. Dari belakang musuh yang lain menusuk. Memerih. Ia tercenguk. Terjengkang.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud.

Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur. Padahal sedari tadi hujan tak mengguyur. Tak setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Mereka menemui istrinya yang kemudian menjawab,

“Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambut. Padahal ia dalam keadaan junub.”

Rasululullah lalu berkata,

“Ia telah dimandikan oleh malaikat.”

Benar. Karena itulah sang pemuda, Handzalah bin Abu Amir, dijuluki Ghasilul Malaikat.

Malam pertama memang tak sempat dituntaskan bersama kekasih yang dicintainya. Namun, ia tahu ada cinta di atas cinta. Bagi sang syuhada, menyongsong seruan itu adalah perwujudan cinta sucinya. Walau harus kehilangan nyawa.

Sahabat kami rela kau pergi / Jihad kita kan terus bersemi

Jalan ini tak kan pernah henti

(Izzatul Islam: Untukmu Syuhada)

Allahu a’lam bish-shawaab.

Penulis: Ferry Hadari

You might also like More from author

Comments

Proses...