Anggia Anggraini, Mengorbankan Kuliah Demi Memberikan Setitik Asa bagi Anak Pemulung Pontianak

Satu tayangan video dokumenter dari Lentera Indonesia berjudul Perjuangan Pendidikan Anak Pemulung Pontianak telah menjadi inspirasi tulisan ini dibuat. Ya mungkin bisa dianggap terlambat ketika Blogger Borneo baru menulis ini ketika prosesnya telah berjalan selama kurang lebih 3 tahun. Hal ini dapat dilihat ketika berusaha untuk mencari informasi di Mbah Google dengan mengetikkan kata kunci namanya ternyata sudah ada beberapa referensi yang membuat postingan mengenai aktivitas Beliau selama ini. Tapi tidak mengapa, kata orang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan tulisan ini khusus Blogger Borneo buat demi memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas apa yang telah dilakukan selama ini.

Kisah ini bermula ketika 3 tahun lalu, tepatnya di akhir Desember 2013, merasa miris dengan kondisi anak-anak para pemulung yang tinggal di perkampungan Waduk Permai Pontianak, Kalimantan Barat. Jika dilihat pada saat itu, sosok gadis yang saat ini sedang menyelesaikan studi akhir di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (UNTAN) Pontianak menganggap bahwa pendidikan masih tidak dianggap sebagai satu hal penting oleh para orang tua anak-anak ini. Buktinya, dari sekian banyak anak-anak di Kampung Pemulung ini masih banyak diantaranya berstatus putus sekolah.

Anggia Anggraini Memberikan Pendidikan Gratis bagi Anak Pemulung di Pontianak
Anggia Anggraini Memberikan Pendidikan Gratis bagi Anak Pemulung di Pontianak

Berawal dari rasa kepedulian dan niat kuat untuk memulai, Anggia Anggraini atau lebih akrab dipanggil Kak Anggi oleh anak-anak didiknya memberanikan diri untuk meminjam teras rumah warga sebagai tempat untuk belajar. Dengan bermodalkan buku-buku seadanya, Anggi bersama beberapa rekannya memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak kaum marjinal untuk semua tingkatan mulai dari SD, SMP, dan SMA.

Fasilitas pendidikan yang belum merata, belum lagi didukung perbedaan strata sosial membuat karakter anak-anak ini cenderung lebih tertutup. Diantara mereka, pada saat itu masih bisa dihitung berapa anak saja yang mengenyam tingkat pendidikan lebih tinggi karena kondisi ekonomi membuat mereka tidak punya pilihan selain membantu orang tua demi terus bisa mempertahankan hidup.

Endang, Hamsinah, dan Sarofa, ketiga anak ini harus rela menjalani masa mudanya tidak seperti kawan-kawan seusianya yang lain. Setiap harinya mereka mengumpulkan sedikit demi sedikit barang-barang bekas yang diperolehnya. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan mereka baru bisa menjualnya dengan pendapatan hanya 80-100 ribu saja. Bagi mereka, cita-cita adalah sebuah istilah asing yang mungkin tidak berani mereka bayangkan. Yang ada didalam benak pikiran mereka hanya satu, yaitu bagaimana bisa terus bertahan hidup setiap harinya.

Di satu kesempatan, Anggi mengajak anak-anak pemulung ini bermain dan belajar bersama kawan-kawan musisi Pontianak. Lokasi belajar pun sengaja dipilih Rumah Radakng untuk sesekali memberikan suasana berbeda. Tampak wajah senang, riang, dan gembira menghiasi wajah anak-anak ini ketika Kak Nabila yang merupakan salah seorang musisi dari Pontianak mengajari mereka bernyanyi dan memainkan alat musik gitar. Bagi Kak Nabila, mereka merupakan anak-anak yang baik, pintar, dan juga ramah.

Dalam sesi wawancaranya, Anggi bercerita bagaimana kisahnya mengorbankan waktu 2,5 tahunnya kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada saat itu Anggi merasa bahwa kuliah di jurusan tersebut bukan bidangnya, oleh karena Anggi memantapkan diri untuk pulang kampung dan kemudian mewakafkan semua uang kuliahnya untuk membeli alat-alat tulis, buku, dan sarana pendukung kegiatan belajar bagi anak-anak pemulung ini.

“Saya sempat merasa bahwa waktu saya akan habis bersama mereka. Sempat merasa disaat teman-teman lain bisa shopping, kebutuhan saya untuk mereka. Tapi pada saat saya menjalankannya, ternyata belanja buku untuk adik-adik, membeli kebutuhan untuk orang lain, itu rasanya lebih bernilai ketimbang ketika saya berbelanja untuk diri sendiri”, ucap gadis kelahiran Medan, 8 Oktober 1988 ini.

Baginya hidup yang berguna itu hidup yang berbagi dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Setelah belajar dari sini, Anggi berharap bisa menjadi setitik asa untuk mereka meraih cita-cita.

Alhamdulillah setelah beberapa lama berjalan, gerakan yang diberi nama Kelas Khatulistiwa Berbagi ini secara perlahan mendapat dukungan dari kawan-kawan terdekatnya. Anggi yakin energi positif itu dapat menular, dan memang pada akhirnya hal itu menjadi kenyataan. Dan semua kisah Anggi ini dapat dilihat sepenuhnya pada tayangan dibawah ini:

Keterangan:

  • Lentera Indonesia adalah program dokumenter di NET. yang diangkat dari kisah-kisah pengalaman nyata para anak muda yang rela melepaskan peluang karier dan kemapanan kehidupan kota besar untuk menjadi guru dan mengajar di desa desa terpencil di seluruh pelosok negeri selama satu tahun.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge