Alasan Keamanan, Xiaomi Akan Mulai Kunci Bootloader Perangkatnya

Saat ini siapa yang belum mengenal Xiaomi? Rasanya vendor yang satu ini sudah sangat dikenal oleh banyak pengguna gadget, khusunya yang ada di tanah air. Kembali mengingat waktu awal kemunculannya, vendor asal Cina ini terlihat lebih mengedepankan keterbukaan, para pengguna diberikan kebebasan untuk mengganti ROM asli perangkat mereka dengan ROM milik posel lain (Custom ROM). Tapi kini, sejak dirilisnya Rdmi Note 3, agaknya mereka akan mulai tertutup.

Kebebasan yang sempat diberikan Xiaomi kepada pengguna melalui produk-produk mereka sebelumnya, dikatakan sangat memanjakan para pengguna. Mengganti ROM asli dan memodifikasinya menjadi salah satu yang paling menyenangkan. Dibalik itu, sang vendor rupanya juga mengambil kesempatan agar MIUI, interface kebanggaan mereka tersebut bisa diterima dan digunakan oleh banyak pengguna. Bahkan hingga ke perangkat lan menggunakan Custom ROM (Cusrom) MIUI.

Namun, setelah namanya sudah cukup dikenal dan menjadi salah satu vendor yang produknya cukup diperhitungkan, tampaknya kini perusahaan tersebut pelan-pelan mulai mencoba untuk tertutup. Lewat peluncuran Xiaomi Redmi Note 3 beberapa waktu lalu, pihaknya mulai melakukan kebijakan baru yang telah mereka buat, yaitu mengunci bootloader perangkat rakitannya. Setelah Redmi Note 3, kabarnya perangkat lain seperti Mi 4C dan Mi Note Pro juga akan mengalami hal yang sama.

Pengguna lama yang sudah terbiasa dengan bootloader yang tidak di lock mungkin akan terkejut saat mengetahui jika perangkat terbaru yang mereka miliki sudah tidak bisa ‘dipreteli’ lagi, sebab bootloader yang menjadi gerbang utamanya sudah terkunci. Kebijakan baru itu mungkin tidak begitu berpengaruh bagi para pengguna pada umumnya, namun bagi beberapa pengguna yang suka mengutak-atik perangkatnya, itu adalah kebijakan yang mengecewakan.

Xiaomi Logo

Sekedar informasi, selama ini perangkat Xiaomi hadir dengan bootloader terbuka, tujuannya untuk memudahkan para pengguna mengganti ROM bawaan yang terpsang dan memodifikasinya dengan ROM lain yang sudah tersedia. Keadaan itu juga memudahkan para developer dalam mempelajari sistem yang digunakan pada setiap perangkat berlogo MI tersebut. Tapi kini, dengan terkuncinya bootloader, maka kemudahan-kemudahan itu sedikit sulit untuk dilakukan.

Ketika dikonfirmasi terkait kebijakan barunya itu, pihak Xiaomi mengatakan bahwa keputusan tersebut mereka ambil demi menjaga keamanan para pengguna. Terutama data-data penting yang dimiliki, baik pengguna maupun Xiaomi sendiri. Mereka khawatir jika bootloader tetap dibiarkan terbuka, maka pihak-pihak usil yang akan lebih diuntungkan. Para tangan-tangan jahil akan lebih mudah memasukkan malware dan memberikan Cusrom berkualitas buruk kepada pengguna lain.

Guna menguatkan alasannya, Xiaomi berdalih bahwa perangkat semisal Nexus hasil kembangan Google juga merilis perangkat dalam keadaan bootloader yang terkunci. Padahal perangkat sekelas Nexus disebut-sebut sebagai perangkat yang ideal bagi para developer. Meski begitu, pihak Xiaomi rupanya masih berbaik hati dengan memberikan jalan keluar atas masalah tersebut.

Bagi pengguna yang benar-benar memerlukan akses ke bootloader, Xiaomi telah menyiapkan solusi berupa unlock bootloader, mereka menyediakannya secara resmi. Tapi untuk mendapatkannya ada proses yang harus dilalui oleh pengguna. Pengguna yang ingin melakukan unlock bootloader pada perangkatnya mesti mengisi formulir pendaftaran terlebih dahulu, kemudian menunggu selama 21 hari untuk mendapatkan kode unlock bootloader. Setiap perangkat nantinya akan diperiksa secara manual, jadi waktu pengiriman kode akan tergantung pada jumlah perangkat yang terdaftar.

Sedikit ribet mungkin, tapi dari pengalaman biasanya hal seperti ini tidak akan bertahan lama, aka nada saja developer yang menyediakan toolnya dengan segera. (BAIM)

You might also like More from author

Comments

Proses...