Adipura 1993, Pertama dan Terakhir bagi Kota Pontianak???

Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”. Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu.

Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu kategori kota metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa), kota besar (500.001 – 1.000.000 jiwa), kota sedang (100.001 – 500.000 jiwa), dan kota kecil (sampai dengan 100.000 jiwa).

Kriteria Adipura terdiri dari 2 indikator pokok, yaitu:

  • Indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota
  • Indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.



Untuk kota Pontianak sendiri, penghargaan Adipura satu-satunya pernah diraih pada tahun 1993. Bersamaan dengan itu, tugu Adipura pun dibangun dan hingga saat ini masih dapat kita lihat wujud fisiknya di ujung Jl. Tanjungpura (putaran jalan dekat Taman Alun Kapuas).

Setelah 19 tahun berlalu, sepertinya belum terjadi perubahan dengan tugu Adipura tersebut. Dengan kata lain, sejak tahun 1993 sampai detik ini kota Pontianak tidak pernah lagi meraih gelar sebagai Kota Bersih dan Teduh. Ya memang tidak dapat dipungkiri untuk saat ini, jika dilihat dari kondisi kota Pontianak sepertinya Penghargaan Adipura akan sulit sekali untuk diraih kembali.

Untuk kategori kota bersih, banyaknya titik-titik “pembuangan sampah tanpa ijin” sepertinya telah menjadi pemandangan umum beberapa lokasi diseluruh penjuru kota Pontianak. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata sampah masih menjadi salah satu masalah yang HARUS dicarikan jalan keluarnya karena ini termasuk dalam tolok ukur penilaina. Sedangkan untuk kategori teduh, secara pribadi malah merasa suhu kota Pontianak terasa semakin panas. Fenomena semakin sempitnya areal hutan yang ada di Kalimantan Barat menjadikan status “Paru-Paru Dunia” tidak dapat lagi dipercaya alias diragukan kebenarannya.

Terus apa yang harus dilakukan sekarang untuk mengatasi kedua indikasi masalah diatas??? Yang pasti, tanpa adanya kerjasama dan kesadaran dari semua pihak terkait maka masalah ini akan terus menumpuk, menumpuk, dan menumpuk. Dan kalau hal ini terus dibiarkan, maka jangan harap kota Pontianak akan meraih kembali penghargaan Adipura untuk yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. (DW)

Sumber Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Adipura

You might also like More from author

Comments

Proses...