7 Poin Kesepakatan Bersama antara MABM dan DAD Kalimantan Barat

Sejak terjadinya kasus penolakan kedatangan Ustadz Tengku Zulkarnaen di bandara Susilo, Kabupaten Sintang beberapa waktu lalu, berbagai macam pro dan kontra pun bermunculan baik itu di dunia nyata maupun dunia maya. Dari hasil pengamatan Blogger Borneo dari beberapa akun-akun media sosial yang ada, tampak dari penampakan foto dan tulisan status sifatnya mengarah ke aksi provokasi.

Ya tentu saja sebagai salah seorang warga masyarakat sekaligus #BloggerPontianak yang lahir dan besar di perbatasan Kabupaten Kubu Raya – Kota Pontianak, Blogger Borneo tidak menginginkan peristiwa kerusuhan beberapa puluh tahun lalu kembali terulang hanya karena adanya gesekan perbedaaan Suku dan Agama. Menang jadi arang, kalah jadi abu, sepertinya pepatah itu sangat pantas diucapkan untuk menggambarkan bahwa perpecahan itu bukanlah satu hal yang bermanfaat. Selama kedua belah pihak bisa saling menjaga ego dan prinsipnya masing-masing, Insya Allah semuanya akan berjalan secara harmonis, rukun, dan sentosa.

Patung Selamat Datang Museum Negeri Pontianak
Patung Selamat Datang Museum Negeri Pontianak

Meski beberapa hari sebelum tulisan ini dibuat sempat beredar isu-isu provokatif yang tujuannya ingin membenturkan kedua belah pihak terkait dengan rencana Aksi Damai Lanjutan di Mapolda Kalbar kemarin sore, Jum’at (20/01/2017). Namun hal itu Alhamdulillah tidak sampai memicu terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Jadi, meski aksi damai tetap terlaksana, namun dari hasil pantauan Blogger Borneo disekitar lokasi semuanya berjalan dengan lancar.

Update terbaru informasi di pagi hari yang cukup cerah ini Blogger Borneo peroleh dari beberapa sahabat yang menyampaikan bahwa kemarin, Jum’at (20/01/2017) telah dilakukan pertemuan secara khusus antara pihak Majelis Adat Budaya Melayu Provinsi Kalimantan Barat (MABM Kalbar) yang diwakili oleh Ketua Umum Prof. Dr. H. Chairil Effendy, MS dan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat (DAD Kalbar) yang diwakili oleh Pelaksana Ketua Harian Drs. Cornelis Kimha, M.Si sekitar pukul 13.30 WIB.

Dari hasil pertemuan khusus tersebut, diperoleh 7 poin kesepakatan antara MABM dan DAD Kalbar, antara lain sebagai berikut:

Poin Pertama

MABM dan DAD Kalbar sepakat menciptakan situasi keamanan dan ketertiban di Kalimantan Barat.

Poin Kedua

Pihak yang menggelar demonstrasi di Pontianak, Jumat, 20 Januari 2017, dihimbau agar tidak melakukan perbuayan anarkis.

Poin Ketiga

MABM dan DAD Kalbar sepakat turut aktif ikut mendinginkan suasana dengan tidak mengeluarkan pernyataan di media massa yang bisa menimbulkan resistensi dari kelompok lain.

Poin Keempat

MABM dan DAD Kalbar menghimbau peran aplikatif Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) untuk mengambil langkah-langkah antisipasi apabila muncul potensi miss komunikasi antar agama dan dan antar kelompok masyarakat.

Poin Kelima

MABM dan DAD Kalbar mendukung tugas Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menciptakan stabilitas keamanan, dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berlaku apabila terbukti terjadi gangguan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Poin Keenam

MABM dan DAD Kalbar berusaha seoptimal mungkin mengendalikan masyarakatnya agar tidak terprovokasi isu-isu yang menyesatkan.

Poin Ketujuh

Pertemuan disaksikan Zulfydar Zaidar Mochtar SE MM, Prof Ir HM Alamsyah HB, Drs Budiman Tahir MSi, M Yusuf SPd, MSi dari Sektetaris MABM Provinsi Kalimantan Barat dan Yohanes Nenes, Ketua Tim Advokasi dan Lembaga Konsultasi Hukum Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat.

Pontianak,
20 Januari 2017

Diharapkan untuk kedepannya hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi atau setidaknya diminimalisir kemungkinan terjadinya dikarenakan Kalimantan Barat memiliki beranekaragam suku, agama, budaya, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua yang tinggal disini untuk saling menjaga dan mengawasi. (DW)

You might also like More from author

Comments

Proses...