BloggerBorneo.Com merupakan media blog yang mengulas mengenai bisnis online, review produk, liputan khusus, dan lowongan kerja.

5 Pertanyaan Mengenai KPR Syariah Murabahah

Nah, pertanyaannya sekarang adalah apakah konsep dan mekanisme yang digunakan sudah sesuai dengan definisi syariah itu sendiri?

Beberapa waktu lalu beredar sebuah postingan yang berisikan ungkapan kekecewaan dari seorang debitur yang mengambil KPR Syariah ketika dia akan melunasi sisa pinjaman KPR nya. Begitu kagetnya dia ketika ternyata setelah dihitung-hitung, nilai sisa pelunasannya malah lebih besar dari jumlah pembiayaan yang diterima. Oleh karena itu, dia merasa terdzolimi karena menurut sepengetahuannya mekanisme pembiayaan pembiayaan secara syari’ah tidak seperti itu.

Oke, sepertinya kasus diatas tidak hanya dialami oleh Debitur tersebut. Ya memang untuk saat ini kita ketahui bahwa istilah pembiayaan syari’ah sedang menjadi tren di kalangan para pelaku usaha maupun penyedia jasa keuangan bank maupun non bank. Jika diperhatikan, sekarang hampir semua lembaga perbankan yang ada di Indonesia membuat bidan atau unit sendiri dengan menambahkan embel-embel syariah diujungnya.

Jujur, sebenarnya untuk pembahasan ini Blogger Borneo juga sama sekali tidak terlalu paham dengan konsep dan mekanisme pembiayaan syariah itu seperti apa. Akan tetapi, secara tidak sengaja Blogger Borneo ada membaca salah satu postingan di media sosial milik seorang sahabat yang isinya membahas mengenai KPR SYARIAH. Jadi, setelah dibaca keseluruhan isi postingannya, Blogger Borneo bisa mengambil kesimpulan bahwa ada 5 Pertanyaan Mengenai KPR Syariah Murabahah.

KPR Syariah atau KPR Konvensional
Sumber: OkeZone.Com

PERTANYAAN 1: AKAD APA YANG DIGUNAKAN?

Dalam syariat islam, ketika kita mau mengambil untung maka harus melalui skema jual beli (barang/jasa). Tidak boleh menggunakan skema pinjam meminjam karena keuntungan/kelebihan dari pinjam meminjam terhukum RIBA.

Saat nasabah mengajukan KPR, maka bank akan menskemakan transaksi KPR kedalam skema jual beli yaitu Bank akan membeli rumah yang diinginkan nasabah kemudian rumah tersebut di jual ke nasabah. Nasabah membayar ke bank dengan cara mengangsur. Misal, bank membeli rumah dari developer seharga 100 kemudian dijual ke nasabah seharga 150, nasabah mengangsur 15 setiap bulan selama 10 kali.

Harga-harga tersebut dituangkan dalam sebuah surat penawaran/persetujuan pembiayaan. Bank transparan menyebutkan harga perolehan, margin yang diperoleh bank, dan harga jual kepada nasabah.

Kritik : Apakah benar bank syariah melakukan pembelian terlebih dahulu sebelum dijual ke nasabah?

Tidak dipungkiri dalam praktik, praktisi bank syariah banyak yang belum paham/gagal paham soal produk dan SOP nya sendiri. Padahal semua skema bank syariah itu pasti sudah ada SOP nya. Dan semua SOP itu harus sesuai dengan aturan aturan lain : Fatwa DSN MUI, UU, Aturan BI/OJK dll

Jawaban dari kritik ini sebenarnya sederhana. Dalam syariah islam, disebut Jual Beli yang sah ketika rukun dan syarat jual beli terpenuhi.

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Rukun:

  1. Adanya penjual dan pembeli;
  2. Adanya barang yang dijual/yang ditransaksikan;
  3. Ijab (ucapan dari penjual saya jual) dan Qabul (ucapan dari pembeli saya beli) ini bentuknya sighat jual beli dengan ucapan. Adapun sighat dengan perbuatan yaitu seorang pembeli memberi uang dari barang yang ia ingin beli dan seorang penjual memberikan barang kepada pembeli tanpa ada ucapan.

Syarat Jual Beli:

  1. Adanya keridhaan antara penjual dan pembeli;
  2. Orang yang mengadakan transaksi jual beli seseorang yang dibolehkan untuk menggunakan harta. Yaitu seorang yang baligh, berakal, merdeka dan rasyiid (cerdik bukan idiot);
  3. Penjual adalah seorang yang memiliki barang yang akan dijual atau yang menduduki kedudukan kepemilikkan, seperti seorang yang diwakilkan untuk menjual barang;
  4. Barang yang di jual adalah barang yang mubah (boleh) untuk diambil manfaatnya, seperti menjual makanan dan minuman yang halal dan bukan barang yang haram seperti menjual khamr (minuman yang memabukkan);
  5. Barang yang dijual/di jadikan transaksi barang yang bisa untuk diserahkan. Dikarenakan jika barang yang dijual tidak bisa diserahkan kepada pembeli maka tidak sah jual belinya. Seperti menjual barang yang tidak ada. Karena termasuk jual beli gharar (penipuan). Seperti menjual ikan yang ada air, menjual burung yang masih terbang di udara;
  6. Barang yang dijual sesuatu yang diketahui penjual dan pembeli, dengan melihatnya atau memberi tahu sifat-sifat barang tersebut sehingga membedakan dengan yang lain. Dikarenakan ketidak tahuan barang yang ditransaksikan adalah bentuk dari gharar;
  7. Harga barangnya diketahui, dengan bilangan nominal tertentu.

MEKANISME APLIKASI BANK SYARIAH

  • Setelah persetujuan diberikan, bank syariah sah membeli rumah dari developer dengan cara : ucapan lisan, surat tertulis, atau mewakilkan kepada nasabah;
  • Bank membeli rumah tersebut dengan pembayaran mundur;
  • Rumah sah berpindah milik dari developer ke Bank Syariah;
  • Bank menjual rumah tersebut kepada nasabah;
  • Nasabah mengangsur kepada bank.

Nah dari penjelasan diatas semua rukun dan syarat jual beli bisa dipenuhi sehingga jual bel ini menjadi sah. Ada beberapa kritikan lain soal skema jual beli ini, diantaranya: Kenapa bank tidak balik nama?, Kenapa tidak dicatat di persediaan bank?, Kenapa begini dan begitu?. Ingat, namanya jual beli, asal rukun dan syarat sempurna maka sah. Selain itu adalah pelengkap yang sifatnya opsional dilakukan dan tidak menggugurkan akad.

PERTANYAAN 2: KENAPA ANGSURAN KPR SYARIAH LEBIH MAHAL

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perjelas dahulu pernyataan mahalnya dibandingkan dengan apa?.

Kalau yang dibandingkan adalah angsuran KPR Syariah dengan angsuran KPR Konvensional maka kita terjebak pada kesalahan berfikir. Kenapa? Karena KPR Konvensional itu tidak ada harga yang bisa dibandingkan dengan KPR Syariah. Sekarang mari perhatikan ilustrasi berikut:

Angsuran KPR Syariah

Harga Beli: 100, Margin: 50, Harga Jual (Total Hutang): 150. Angsuran 10 Kali = 15 / Bulan.

Angsuran KPR Konvensional

Pokok Kredit: 100, Bunga: 10 % Efektif Per Anually Floating. Total Hutang ?????

Ternyata dalam KPR Konvensional seorang debitur tidak akan pernah tahu berapa total hutangnya. Kalau kita ambil mekanisme KPR Konvensional, itu berarti kita hutang dan berjanji membayar berapapun nilai yang ditagihkan oleh bank di masa depan. Gimana?? Anda Sehat?? Butuh Air Minum?? Jadi gambaran murah atau mahal baru bisa disimpulkan ketika sudah ada nilai yang akan dibandingkan.

PERTANYAAN 3: APAKAH PELUNASAN DIPERCEPAT KENA PENALTY?

Dalam KPR Konvensional, kalau nasabah melunasi sebelum jatuh tempo maka biasanya dikenai penalty sebesar sekian persen atau sekian angsuran. Nah dalam KPR Syariah maka tidak perlu sampai rumit karena ini bentuknya transaksi dagang. Kalau nasabah berhutang 150 , sudah nyicil 50 maka sisa hutang adalah 100.  Sederhana bukan?.

Whaattt kok begitu…. Saya kan hutang 100, masa udah dicicil berpuluh kali bayarnya tetap harus sama seperti hutang di awal??? Maaf, Anda gagal paham dengan skema transaksi sederhana dikarenakan masih menggunakan cara pikir riba. Tenang, jika Anda merasa berkeberatan ajukan saja diskon ke Bank Syariah. Jika penyampaiannya baik, sopan, dan sesuai kaidah Insya Allah tetap akan dikasih diskon. 😉

PERTANYAAN 4: APAKAH BANK SYARIAH ADA DENDA KETERLAMBATAN?

Denda itu hukum asalnya memang haram diberlakukan dalam skema hutang piutang. Dalam Bank Syariah, denda itu adalah hukuman kepada nasabah yang mampu namun melalaikan kewajiban. Dan denda ini tidak dimasukkan dalam pendapatan bank melainkan diberikan ke badan sosial. Tujuan denda ini adalah untuk mendisiplinkan nasabah akan kewajibannya. Pengenaan denda ini pun telah ada landasannya yaitu fatwa DSN MUI. Kalau sudah ada fatwa dari ulama, ummat tinggal ringan melangkah.

PERTANYAAN 5: KENAPA HARUS MEMILIH BANK SYARIAH

Jawabannya hanya satu yaitu karena Anda tidak ingin terkena RIBA. Titik.

Nah itu beberapa hal tentang KPR Syariah. Bagi temen-temen yang mau ambil KPR Syariah atau tertarik soal KPR Syariah, semoga membawa manfaat.

Ditulis oleh: Yusuf Nur Arifin Trisnoputro

Sumber: Desi Septinawati

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge